Sejarah Perpustakaan, dari Kejayaan Islam hingga Dunia Modern

banner 468x60
Bagikan:

Jakarta – Peradaban Islam membawa pengaruh besar terhadap dunia modern. Hal itu terbukti dengan giatnya tulis-menulis sejak periode awal yang akhirnya menghasilkan dua landasan hukum Islam, yaitu al-Quran dan Hadis.

Seiring berjalannya waktu, muncul banyak karya di berbagai disiplin ilmu. Ragam hasil pemikiran karya ulama Islam tersebut sebagiannya berhasil terdokumentasikan, baik dalam bentuk buku cetak maupun digital. Terpeliharanya karya para ulama masa lalu itu tidak terlepas dari keberadaan perpustakaan.

Bacaan Lainnya

banner 300250

Menurut John L Esposito dalam Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern, “Perpustakaan-perpustakaan Islam pernah mengalami puncak kejayaan. Kegemilangan yang sama hendak dicapai oleh Muslim masa kini. Kegemaran kaum Muslim belajar secara alamiah menghasilkan budaya baca dan kegiatan pelestarian buku-buku.

Koleksi perpustakaan pertama muncul pada periode Umayah. Beberapa koleksi di perpustakaan itu bahkan masih terjaga hingga sekarang. Khalid bin Yazid (704 M), dikenal sebagai sastrawan sekaligus kolektor buku. Mulanya, tradisi pengumpulan dan kepustakaan itu berawal dari perorangan, lembaga masjid, dan lembaga pendidikan. Institusi paling mononjol soal ini adalah masjid.

Khalifah al-Manshur (775 M) disebut-sebut sebagai pendiri cikal bakal perpustakaan. Ia mendirikan biro terjemahan di Bagdad. Pada pemerintahan al-Ma’mun (833 M), inisiatif tersebut disempurnakan dengan pendirian Bait al-Hikmah yang merupakan pelopor perpustakaan kala itu. Bahkan, lembaga yang berdiri pada 830 M itu, didaulat sebagai lahan sentral pengetahuan dunia Islam.

Keberhasilan itu merembet ke sejumlah wilayah kekuasaan Islam. Di Kairo, Dinasti Fatimiyah membangun Dar al-Ilmi, keturunan Bani Umayah di Kordoba Spanyol mendirikan perpustakaan dengan koleksi buku sebanyak 400 ribu jilid. Geliat penulisan pun meningkat setelah kertas mulai dikenalkan di dunia Islam pada abad ke-8 Masehi. Penggunaan kertas itu kian populer dan memunculkan ragam profesi baru, salah satunya warraq yang berarti panyalur dan penyalin kertas.

READ  Arab Saudi Akan Buka Penerbangan Internasional, Kesthuri: Jamaah Umrah dan Haji Harap Bersabar

Pada 987 M, Ibn Nadim, yang tersohor sebagai warraq, menulis sebuah kepustakaan penting dengan karyanya yang berjudul al-Fihrist. Buku itu berisi tentang daftar-daftar buku berikut isinya secara umum. Semua buku itu adalah karya yang pernah ia tangani.

Selanjutnya, kepustakaan dikembangkan oleh cendekiawan ternama asal Istanbul, Hajj Khalifah. Ia membuat daftar kitab-kitab klasik dilengkapi uraian singkat isinya. Total keseluruhannya berjumlah 14.500 judul buku.

Namun saying seribu sayang, buku-buku yang berharga sepanjang sejarah itu kerap menjadi sasaran perusakan, baik oleh bencana alam atau ulah tangan manusia. Sejarah mencatat, tentara Mongol di Bagdad pernah menghancurkan secara masal karya-karya Muslim saat itu. Pada masa inkuisisi Spanyol, terjadi pemindahan ribuan naskah dari dunia Islam ke perpustakaan personal di Barat. Paling terkenal ialah Perpustakaan Inggris, Bibliotheque Perpustakaan Nasional Perancis.

Pada abad ke-20, kondisi perpustakaan dan pustakawan yang agak memprihatinkan mendorong otoritas sejumlah negara mendirikan perpustakaan nasional untuk menginventarisasi koleksi-koleksi sarjana Muslim. Seperti yang dilakukan oleh Yordania dan Mesir. Tapi, tetap saja pamor perpustaan tersebut kurang. Bahkan, kalah dengan perpustakaan umum. Di beberapa negara, perpustakaan umum justru lebih diminati, seperti di Turki, Yordania, Pakistan, dan Malaysia.

banner 300x250
Bagikan:
Editor: Al-Afgani

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *