Menguji Keimanan Dengan Isra’ Mi’raj

Kholis Bakri, wartawan dan praktisi dakwah
banner 468x60
Bagikan:

Menguji Keimanan Dengan Isra’ Mi’raj

Oleh: Kholis Bakri*

Wartawan, Praktisi Dakwah

Bacaan Lainnya

banner 300250

BULAN Rajab menjadi bulan istimewa bagi umat Islam, karena sebagian kita meyakini pada tanggal 27 Rajab, terjadi peristiwa agung yaitu Isro’ Mi’raj yang merupakan awal perintah shalat 5 waktu. Namun, tak semua ulama berpendapat sama, kapan persisnya peristiwa Isro Mi’raj ini.

Ada ulama yang berpendapat peristiwa ini terjadi lima tahun setelah Muhammad diutus sebagai
rasul Alloh. Ada juga yang berpendapat terjadi beberapa bulan sebelum hijrah, bahkan terjadi
pada bulan Muharram. Pendapat lain menyatakan terjadi pada Rabiul awwal tahun ke-13
kenabian.

Menurut Shafiyurrahman al Mubarakfuri, pendapat ulama yang menyatakan peristiwa Isro’
Mi’raj terjadi pada masa akhir sebelum hijrah dianggap lebih kuat, walaupun tidak diketahui
pendapat mana yang paling kuat. Tentu, memperdebatkan waktu yang tepat dalam peristiwa
ini tak begitu penting dibanding mengambil hikmahnya untuk memperkuat keimanan kita.

Meskipun bukan sebagai ritual ibadah, sebagian ulama membolehkan menggelar peringatan
Isro’ Mi’raj, sepanjang tidak melanggar syariat islam, apalagi momentum ini dijadikan sebagai media untuk mempersatukan umat dan syiar islam.

Isro` secara bahasa berasal dari kata ‘saro’ bermakna perjalanan di malam hari. Adapun secara istilah, Isro’` adalah perjalanan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Jibril dari Masjidil Harom di Mekah ke Masjidil Aqsha di Palestina, sebagaimana disebutkan dalam surat Al Isro ayat 1. Mi’raj secara bahasa adalah suatu alat yang dipakai untuk naik. Adapun secara

istilah, mi’raj bermakna tangga khusus yang digunakan oleh nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam untuk naik dari bumi menuju ke atas langit, seperti yang dijelaskan dalam surat AnNajm ayat 1 hingga18.

Mungkinkah Rasululloh sebagai manusia mampu menembus langit? Perjalanan yang di luar
nalar manusia ini harus dipahami dengan keimanan. Karena, akal manusia begitu terbatas untuk
mengetahui Kemahakuasaan Alloh. Dalam hadist riwayat Bukhori Muslim diceritakan, ”
kemudian aku diberikan seekor binatang yang bukan begal, tapi melebihi keledai putih..”, Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari berpendapat yang dimaksud hadist itu, binatang tunggangan
supaya rasulullah menaikinya dalam keadaan nyaman.

READ  Tetesan Air Mata Seorang Mualaf Pertama Kali Ucap Kalimat Syahadat

Dalam hadist lain riwayat Tirmizi dari Hudzaifah bin al Yaman, rasulullah telah diberikan
seekor binatang yang punggungnya panjang dan langkahnya sepanjang mata memandang.
Mereka berdua, rasulullah dan Malaikat Jibril tidaklah terpisahkan di atas punggung buroq
sehingga mereka menyaksikan surga dan neraka.

Ibnu Duraid mengatakan buroq berasal dari kata al barqi yang bermakna kilat, karena
kecepatannya seperti kilat. Ada juga yang berpendapat, disebut buroq karena bersih, mengkilat dan sangat cepat. Namun, tidak ada satu pun hadist, yang menggambarkan burog berwajah seperti perempun cantik, dengan memiliki sayap yang indah seperti terlihat dalam berbagai lukisan yang jelas-jelas menyalahi sunnah. Jadi, Apa sesunggugnya buroq itu? .

Kita cukup mendasarkan pada hadist hadist shohih, yang tidak mendeskripsikan secara detail
yang dimaksud dengan buroq. Kita cukup mengimani kebenaran peristiwa itu. Namun, para
ilmuwan masa kini berusaha memahami buroq dengan perspektif ilmu pengetahuan modern.

Jika kita menggunakan nalar sains modern, maka jika buroq diartikan sebagai binatang
bersayap, tentu kita menganggapnya aneh, karena binatang bersayap hanya berfungsi dalam
lingkungan atmosfir planet, padahal perjalanan Isro’ Mi’raj menembus luar angkasa yang
hampa udara, tidak lagi dibutuhkan sayap untuk terbang, apalagi sebelum menembus keluar
atmosfir bumi, tubuh nabi dan binatang buroq, akan bergesekan hingga hancur terbakar.

Jangankan perjalanan ke angkasa luar, perjalanan ke Masjidil Aqsa saja yang berjarak 1500
kilometer, tubuh rasulullah akan terkoyak koyak Jadi perjalanan Isro” Mi’raj dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjid al Aqsha di Palestina,kemudian naik ke Sidratul Muntaha yang berada di langit ketujuh bukanlah perjalanan biasa.

Mana mungkin rasulullah bisa menempuh perjalanan ini, hanya ditempuh sekitar 8 jam, bulak
balik lagi.. Maka, kita coba bayangkan perjalanan ini dengan mengacu pada surat al Ma’arij,
ayat 4. “Para malaikat dan jabril naik menghadap kepada Tuhan dalam sehari setara dengan
lima puluh ribu tahun”.

READ  Gandeng Media Islam, Kemenag Ajak Sebar Konten Moderasi Beragama

Menurut Prof. Agus Purwanto Dsc, seorang pakar fisiko teori dalam bukunya Nalar Ayat Ayat
Semesta, jika ayat ini dijadikan rujukan kecepatan mi’raj rasulullah, maka kecepatan malaikat diketahui 18.262.500 kali kecepatan manusia. Jika Isro’ Mi’raj berlangsung selama 8 jam, maka kecepatan Malaikat 91.312.500 kilometer per jam. Dan jika kita hitung dari bumi, maka perjalanan rasulullah bersama Jibril hanya baru melewati Mars, dan setengahnya perjalanan menuju Yupiter. Padahal, bintang terdekat saja, Alpha Centauri berjarak 4 tahun cahaya, atau 9,5 trilyun kilometer.

Karena itulah, untuk bisa memahami peristiwa Isro’ Mi’raj, mari kita simak firman Allah
Ta’ala, yang artinya: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu
malam dari al masjidil haram ke al masjidil aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar
kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. sesungguhnya dia
adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS al-Isro’` : 1)

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah Ta’ala yang memperjalankan dan memindahkan rasululah
dari satu tempat ke tempat lain. Allah menggunakan kata “abdihi”, hambanya yang terpilih.

kata ini merujuk pada jiwa dan raga, ruhani dan jasmani. Dalam ayat ini juga, Allah
menggunakan kata “Laila”, yang merupakan penggalan waktu dalam sehari. Tiga kata kunci
inilah, yang merepresentasikan dimensi ruang dan waktu, serta obyek materi-immateri. Karena
itulah, menurut Agus Purwanto, Isro’ Mi’raj tidak dapat dipahami sebagai perjalanan dalam
ruang dan waktu dengan pemahaman empat dimensi kita, harus ada dimensi lain di luar dimensi
yang kita kenal.

Kita wajib menerima dan mengimani tentang kebenaran berita itu. tidak menolak atau
mengubah berita tersebut sesuai dengan kenyataannya. Kewajiban kita adalah beriman sesuai
dengan berita ghaib yang disampaikan oleh Alloh dan rasul Alloh. Kita pun harus meneladani
sifat para sahabat nabi ketika menerima berita ini.

Dalam sebuah riwayat bahwa setelah peristiwa Isro’’ Mi’raj, orang-orang musyrikin datang
menemui Abu Bakar as shiddiq radhiyallahu ‘anhu. mereka mengatakan : “lihatlah apa yang
telah diucapkan temanmu (yakni muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam)!”. Abu Bakar

READ  Apresiasi ITMI Berantas Buta Huruf, MUI Libatkan Ulama Penyandang Disabilitas

berkata : “apa yang beliau ucapkan?”. orang-orang musyrik berkata : “dia menyangka
bahwasanya dia telah pergi ke Baitul Maqdis dan kemudian dinaikkan ke langit, dan peristiwa
tersebut hanya berlangsung satu malam”. Abu Bakar berkata : “jika memang beliau yang
mengucapkan, maka sungguh berita tersebut benar sesuai yang beliau ucapkan, karena
sesungguhnya beliau adalah orang yang jujur”.

Orang-orang musyrik kembali bertanya: “mengapa demikian?”. Abu Bakar menjawab: “aku
membenarkan seandainya berita tersebut lebih dari yang kalian kabarkan. aku membenarkan
berita langit yang turun kepada beliau, bagaimana mungkin aku tidak membenarkan beliau
tentang perjalanan ke Baitul Maqdis ini?” (HR Al Hakim)

Perhatikan bagaimana sikap Abu Bakar terhadap berita yang datang dari nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam, beliau langsung membenarkan dan mempercayai berita tersebut. Beliau
tidak banyak bertanya, meskipun peristiwa tersebut mustahil dilakukan dengan pemahaman
ilmu pengetahuan saat itu. Demikianlah seharusnya sikap seorang muslim terhadap setiap
berita yang shahih dari yang datang dar Allah dan rasul-Nya.

Sebelum ke Sidratul Muntaha, rasululloh lebih lebih dulu mampir ke baitul maqdis. apa
hikmah di balik peristiwa ini? Bisa saja, rasululloh langsung ke Mi’raj dari Mekah. Tapi, Alloh sengaja memperjalankan rasul-Nya dari Mekah ke Al Aqsha, untuk lebih memperkuat hujjah
bagi orang-orang musyrik.

Ketika mereka bertanya kepada nabi, maka nabi menceritakan
tentang kafilah yang beliau temui selama perjalanannya. Tatkala kafilah tersebut pulang dan
orang-orang musyrik bertanya kepada mereka, orang-orang musyrik baru mengetahui benarlah
apa yang disampaikan oleh nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hikmah lainnya, untuk menampakkan hubungan antara Masjidil Harom dan Masjidil Aqsha
yang berdimensi historis dan masa depan, tak sekedar sebagai kiblat shalat. Karena kedua
tempat itu menjadi tonggak perjuangan untuk menegakan al haq. Di Masjidil Aqsha, rasululloh
menjadi iman shalat para nabi yang menunjukan keutamaan beliau diantara para nabi. Begitu
banyak peristiwa akhir zaman yang berkaitan dengan dua tempat mulia ini, hingga Alloh Ta’ala
akhirnya menutup kisah dunia dengan datangnya kiamat, Wallohu ‘alam.

 

banner 300x250
Bagikan:

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *