fbpx
Kamis, 23 Mei 2024

Upah Mengajar Al-Qur’an

Share

MENGAJARKAN Al-Qur’an termasuk fardhu kifayah. Sedangkan menghafalnya merupakan suatu kewajiban bagi umat Islam agar tidak terputus jumlah kemutawatiran para penghafal Al-Qur’an di samping untuk menghindari timbulnya perubahan dan penyimpangan.

Bila tugas ini telah dilakukan oleh sebagian orang, maka gugurlah kewajiban ini dari yang lain. Bila tidak satu pun yang melakukannya, maka semuanya berdosa.

Dalam hadits yang diriwayatkan Utsman disebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR Imam Bukhari)

Cara mempelajari Al-Qur’an ialah dengan menghafalnya ayat demi ayat. Cara inilah yang dewasa ini dipakai dalam media pendidikan modern, yakni setiap pelajar diharuskan menghafal sedikit demi sedikit, kemudian ditambah lagi dengan pelajaran berikutnya, dan begitu seterusnya.

Dari Abul Aliyah, ia berkata, “Pelajarilah Al-Qur’an lima ayat-lima ayat, karena Nabi mengambilnya dari Jibril Alaihissalam lima ayat-lima ayat.”

Para ulama berbeda pendapat tentang boleh atau tidaknya menerima bayaran dari mengajar Al-Qur’an. Para peneliti menguatkan pendapat yang membolehkannya, berdasarkan sabda Nabi Saw:

إِنْ أَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ الله

“Pekerjaan yang paling berhak kamu ambil upahnya ialah (mengajarkan) Kitab Allah.” (HR Bukhari dalam kitab Ath-Thib dari hadits Ibnu Abbas.)

Dan sabda beliau, “Aku nikahkan engkau dengannya dengan (maskawin) Al-Qur’an yang ada padamu.” (HR Bukhari dan Muslim dalam bab Nikah)

Sebagian ulama telah membagi bentuk pengajaran Al-Qur’an dengan pembagian yang bagus, menjadi beberapa macam, lalu menjelaskan hukumnya masing-masing, sebagaimana disinggung oleh Abul Laits dalam kitabnya Al-Bustan, “Pengajaran Al-Qur’an itu ada tiga macam. Pertama; Pengajaran yang karena Allah semata dan tidak mengambil upah. Kedua; Pengajaran dengan mengambil upah. Ketiga; Pengajaran tanpa syarat, namun bila diberi hadiah, maka dia terima.

Pengajaran model pertama mendapatkan pahala, dan itu merupakan tugas para Nabi Alaihimussalam. Model pengajaran kedua diperselisihkan. Ada yang mengatakan tidak boleh dilakukan berdasarkan sabda Nabi, “Sampaikanlah dariku, walaupun hanya satu ayat.” Tetapi ada pula yang membolehkannya. Yang lebih baik ditempuh oleh pengajar Al-Qur’an ialah membuat perjanjian untuk hanya menerima bayaran bagi pekerjaan membimbing hafalan dan mengajar tulis-menulis saja. Tetapi bila ia menetapkan pula bayaran mengajar Al-Qur’an, aku kira tidak ada halangannya, karena kaum muslimin telah mewarisi demikian sejak dulu dan membutuhkannya.

Macam ketiga adalah boleh menurut pendapat semua ulama. Sebab, Nabi Saw sendiri adalah pengajar semua orang dan beliau juga menerima hadiah.

Selain itu, juga berdasarkan hadits tentang orang yang disengat kalajengking dimana para sahabat mengobati orang tersebut dengan bacaan surat Al-Fatihah dan mereka meminta imbalan, kemudian Nabi bersabda, “Berikanlah bagian untukku dari apa yang kalian terima itu.” (HR Bukhari dalam kitab Ath-Thib, dari hadits Ibnu Abbas). []

Sumber: Syekh Manna Al-Qaththan, Mabahits Fi Ulumil Qur’ani (Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an), Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2008.

Sumber Klik disini

Tinggalkan Balasan

Table of contents

Read more

Berita lainnya