fbpx
Minggu, 16 Juni 2024

Menginfakkan Harta

Share

MENGINFAKKAN harta adalah mempergunakan (membelanjakan)-nya tanpa imbalan (pengganti). Sedang mempergunakan (membelanjakan) harta dengan imbalan (pengganti) itu tidak dinamakan infak. Allah Ta’ala berfirman:

وَاَنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ

“Dan belanjakanlah hartamu di jalan Allah.” (Al-Baqarah [2]:195)

Dan firman-Nya:

وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ

“Dan mereka menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (Al-Baqarah [2]: 3).

Dan firman-Nya lagi:

لِيُنْفِقْ ذُوْ سَعَةٍ مِّنْ سَعَتِهٖۗ

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya.” (Ath-Thalaq [65] : 7).

Dr. Samih Athif Az-Zein dalam bukunya “Al-Islam Khututun Aridhah, Al Iqtishad, Al-Hukm wa Al-Ijtima”’ mengatakan, Islam memiliki metode sendiri dalam mengatur pembelanjaan harta. Maka kemudian ditentukanlah cara-cara infak dan diletakkanlah aturan-aturannya.

Islam tidak membiarkan bagi seorang pemilik harta suatu kemutlakan untuk mempergunakannya, sehingga dia membelanjakan sesuka hatinya. Akan tetapi, Islam telah menentukan cara penggunaan hartanya di waktu hidup dan sesudah matinya.

Pembelanjaan harta seseorang dengan cara memindahkan pemilikannya kepada orang lain tanpa imbalan itu adakalanya dengan memberikannya kepada manusia, adakalanya dengan menginfakkannya bagi diri dan orang yang diwajibkan untuk menginfakkan kepadanya.

Pelaksanaan infak itu adakalanya di saat seseorang masih hidup, seperti hibah, hadiah dan sedekah; dan adakalanya sesudah dia mati, seperti wasiat.

Islam telah mengatur penggunaan harta ini, sehingga ia melarang individu untuk menghibahkan atau menghadiahkan kepada musuh dalam keadaan perang, sesuatu yang dapat memperkuat musuh atau kaum Muslimin, dan melarang individu untuk menghibahkan atau menghadiahkan atau menyedekahkan, kecuali apa yang tidak lagi diperlukan oleh diri dan keluarganya. Bila dia memberikan apa yang masih diperlukan untuk diri dan keluarganya, maka pemberiannya itu dibatalkan.

Berkata Rasulullah Saw: “Sebaik-baik sedekah itu dari orang yang tidak memerlukan; dan mulailah sedekah itu dari orang yang menjadi tanggunganmu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Jabir ibnu ‘Abdullah, bahwasanya seorang lelaki datang kepada Nabi Saw membawa emas sebesar telur, lalu katanya: “Wahai Rasulullah, ini adalah sedekah. Aku tidak lagi mempunyai harta selain itu.” Lalu Nabi Saw melemparkannya. Kalau saja emas itu mengenai orang itu, tentulah akan menyakitkan. Kemudian Nabi Saw berkata: “Seorang di antara kamu telah berjalan, lalu dia melepaskan hartanya, kemudian menjadi tanggungan orang banyak.”

Sumber Klik disini

Tinggalkan Balasan

Table of contents

Read more

Berita lainnya