Islam Cenderung Mendiskriminasi Wanita? Simak Penjelasannya

Ilustrasi suami/istri melaksanakan salat berjamaah. (Foto: IJS)
banner 468x60
Bagikan:

Jakarta – Islam kerap dipandang memiliki formulasi hukum yang cenderung menguntungkan kaum adam. Aturan seperti larangan kaum hawa mengimami laki-laki dalam salat, kewajiban seorang istri pada suaminya, dan beberapa hukum lainnya. Berbagai aturan tersebut sering dipandang sebagai patriarki yang menggiring perempuan menjadi golongan submisif sehingga perannya dianggap dikesampingkan.

Menanggapi hal itu, peneliti di Rumah Fiqih Indonesia, Aini Aryani, Lc menganggap aturan tersebut tidak membuat lelaki menjadi lebih mulia di hadapan Allah swt. hanya karena menjadi imam salat atau menjadi kepala rumah tangga.

Bacaan Lainnya

banner 300250

“Karena dari masing-masing, baik lelaki maupun perempuan, diberi ganjaran yang sama dalam melaksanakan tugas yang telah dibagi oleh Allah swt.,” katanya, dikutip dari REPUBLIKA.co.id.

Tafsiran berbagai contoh di atas, sambungnya, bukan bertujuan sebagai penempatan derajat wanita sebagai kelas kedua dalam kehidupan sosial.

“Bukan sebuah diskriminasi ketika wanita tidak boleh menjadi imam salat bagi laki-laki, atau ketika dia harus berdiri di saf salat yang berada di belakang laki-laki. Karena itu semata-mata bertujuan agar prosesi penyerahan diri dihadapan Allah berjalan dengan lebih tunduk, khusyuk, dan sakral. Bukan untuk ditafsirkan sebagai penempatan derajat wanita sebagai kelas kedua dalam kehidupan sosial,” jelasnya yang dikutip di Rumah Fiqih Indonesia, Rabu (24/2/2021).

Terkait pengabdian seorang wanita terhadap pria pun merupakan kewajiban yang telah ditentukan oleh Tuhan. Pastinya, dalam perintah tersebut sarat akan hikmah.

“Demikian pula ketika istri harus mematuhi suami yang menjadi kepala keluarganya, bukan untuk diartikan dirinya mengabdi dan tunduk pada pria, akan tetapi melaksanakan kewajibannya yang telah ditentukan Penciptanya,” sambungnya.

Dia menegaskan, patokan utama dari penentuan derajat manusia di hadapan Allah swt. adalah tingkat ketakwaannya. Karena itu, gender equality tidaklah selalu bermakna persamaan hak dan kewajiban dalam setiap bidang, karena yang menjadi substansi dari persamaan itu adalah nilainya.

“Laki-laki yang ingin mendapatkan manisnya berjihad diberikan oleh-Nya jalan dengan cara mempertaruhkan nyawa di medan perang atas nama agama Allah. Begitu pula wanita yang ingin mendapatkan manisnya berjihad, diberikan oleh-Nya jalan dengan cara mempertaruhkan nyawa ketika melahirkan bayi dari rahimnya,” ujarnya.

Faktanya, meskipun pria dan wanita kadangkala mendapatkan porsi yang berbeda, namun pada dasarnya masing-masing keduanya memiliki nilai yang sama.

“Kadangkala laki-laki dan wanita ditempatkan di bidang atau porsi yang berbeda, namun tetap memiliki ‘nilai’ yang sama. Inilah sesungguhnya makna dari Gender Equality,” tambah dia.

Sementara itu, pengurus Lembaga Kemaslahatan Keluarga NU, Maria Ulfah menegaskan, Islam tidak patriarkis, walau ia tidak menampik ada sejumlah hal dalam Islam yang mengarah kesana.

“Sesungguhnya yang patriarki bukan Islamnya, tapi budaya di hampir semua agama dan masyarakatlah yang patriarki,” ujarnya.

Terkait dengan ayat atau hadis yang tampak menyudutkan perempuan, ada yang harus dilihat dengan menggunakan pendekatan mubadalah, yaitu bisa dilihat dari dua sisi. Artinya, hadis tersebut berlaku juga untuk laki-laki, tidak hanya untuk perempuan.

“Misalkan ada ayat yang mengatakan, istri yang membangkang pada suami harus dipukul.” katanya.

Ia memaparkan, ada tahapan-tahapan sebelum itu. Pertama, jika istri membangkang, langkah awal yang dilakukan adalah diberi nasihat. Kedua, dipisahkan tempat tidurnya tapi masih dalam satu rumah. Ketiga, dipukul.

“Inilah yang digunakan oleh kelompok-kelompok yang memahami ayat secara tekstual, tidak konstekstual,” ujarnya.

Ayat tersebut, sambungnya, juga harus dikaitkan dengan ayat universal lainnya. Seperti ayat tentang suami harus berbuat makruf (berbuat baik) pada istri.

“Bahkan ada ayat yang mengatakan, seburuk-buruk suami adalah yang memukul istrinya,” pungkas Maria Ulfah.

(Afg/IJS)

READ  Polda Ungkap Kondisi Rizieq Syihab di Dalam Rutan
banner 300x250
Bagikan:
Editor: Al-Afgani Hidayat

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *