fbpx
Kamis, 30 Mei 2024

Tanggung Jawab Ayah dalam Pendidikan Anak

Share

Tangung jawab pendidikan anak tidak bisa dialihkan pada siapapun. Bukan ibu, bukan guru apalagi suster pembantu

Hidayatullah.com | JIKA diajukan pertanyaan kepada para ayah, “Anak yang seperti apa yang diinginkan?” Tentu banyak sekali harapan  tertumpah kepada setumpuk criteria. Misalnya menjadi anak shalih-shalihah, sebagaian lain bermimpi agar anak keturunannya menjadi penyejuk pandangan mata dan pemimpin bagi orang -orang yang bertaqwa.

Tidak ada yang salah dengan sederet harapan itu, namun apa yang ingin dicatat adalah bahwa umumnya para ayah tidak tahu tentang tanggung jawab besarnya dalam melahirkan generasi terdidik (berakhlak) dan bukan hanya bersekolah, kuliah  lalu berebut mengisi lowongan kerja.

Kita sering menyaksikan betapa banyak orangtua yang amat peduli tentang nilai rapor anaknya, nilai UNAS-nya, agar bisa sekolah di SMP/SMA favorit. Lalu supaya bisa melanjutkan di universitas ternama dan mendapatkan pekerjaan yang mapan dan berkeluarga. Itu semua termasuk kelompok penyejuk pandangan mata (qurrata a’yun).

Kalau hanya sebatas itu mimpi orangtua, lalu dikemanakah visi agar anak keturunan kita terdidik menjadi imam bagi orang yang bertaqwa?

Karena itulah diperlukan reorientasi visi berkeluarga. Bahwa menikah bukan hanya membangun rumah-tangga, tetapi membangun  kehidupan, membangun peradaban.

Oleh karena itu, orangtua wajib memastikan anak keturunannya berpendidikan dan berkualitas  pemimpin, bukan hanya sekadar generasi pekerja. Generasi terdidik yang selalu terpanggil untuk melakukan perbaikan akhlaq dan kehidupan sosial dimanapun ia berada.

Spirit Pendidikan dalam al-Qur`an

Sebuah tulisan karya Sarah binti Halil bin Dakhilallah al-Muthiri yang ditulis untuk meraih gelar magister di Fakultas Pendidikan, Universitas Umm al-Quro Makah, bisa menuntun para ayah untuk lebih peduli dengan kualitas pendidikan anak-anaknya.  Tulisan ilmiah tersebut berjudul “Dialog Orangtua dengan Anak dalam Al-Quranal-Karim dan Aplikasi Pendidikannya.”

Menurut Sarah, terdapat 17 dialog (berdasarkan tema) antara orangtua dengan anak dalam Al-Quran yang tersebar dalam 9 Surat. Ke-17 dialog tersebut dengan rincian: dialog antara ayah dengan anaknya  terdapat 14 kali, dialog antara ibu dan anaknya sebanyak 2 kali, dialog antara kedua orangtua tanpa nama dengan anaknya ada 1 kali. Jika kita bandingkan, ternyata dialog antara ayah dengan anaknya jauh lebih banyak ketimbang dialog antara ibu dengan anaknya, 14 dibanding 2.

Kisah Al-Qurantentang dialog ayah dengan anak yang dominan, tentu bukan karena kebetulan, tetapi sekaligus memberikan pesan kuat bahwa pendidikan anak versi Al-Quranadalah berpusat pada sang ayah. 

Ayah bertanggungjawab sepenuhnya terhadap pendidikan dan akhlaq anak, bukan ibu apalagi guru atau diserahkan pembantu.

Perhatikanlah, bagaimana Nabi Adam dibimbing oleh Allah SWT untuk menyelesaikan konflik anak-anaknya Qabil vs Habil. Bagaimana Nabi Nuh memanggil-manggil putranya naik perahu, bagaimana Nabi Luth prihatin dengan anak istrinya yang terlibat LGBT.

Juga nabi Ibrahim membesarkan Ismail dalam ketaatan dengan model pendidikan dialogis, bukan hanya perintah dan larangan. Juga bagaimana Nabi Ayyub menjelang ajalnya berwasiat tentang tauhid pada anak-anaknya.

Tak ketinggalan, bagaimana kisah Lukmanul Hakim mendidik anaknya tentang syukur, aqidah  akhlak dan  menegakkan ibadah terutama shalat juga tentang kesederhanaan (QS 31: 12-19). Semua menunjukkan dominasi ayah dalam pendidikan akhlak anaknya

Naifnya, kini banyak muncul fenomena ayah ‘bisu’ dalam rumah. Inilah salah satu penyebab munculnya banyak masalah  kenakalan anak  yang melampaui usianya.

Sebagian ayah sering kehabisan tema untuk bicara dengan anak-anaknya. Sebagian lagi hanya mampu bicara uring-uringan dengan intonasi tinggi alias marah-marah.

Ada lagi yang diam saja, hampir tidak bisa dibedakan saat sakit gigi atau sedang sariawan atau memang tidak bisa bicara. Sementara sebagian lagi, irit energi, pelit bicara, kalaupun bicara hanya monoton dan seperlunya saja.

Maka pantas hasil generasi penerus ini memprihatinkan, jauh dari yang diharapkan peradaban Islam

Hal yang sama terjadi di Indonesia. Elly Risman Musa Spi, pemerhati kenakalan anak, menemukan fakta bahwa ternyata sangat banyak anak-anak kita yang ber-ayah ada, ber-ayah tiada.

Maksudnya,  banyak anak-anak yang bertemu ayahnya sebentar di pagi hari atau bahkan tidak bertemu sama sekali, dan baru bertemu lagi di malam hari. Hasil penelitian yang dilakukan di Amerika oleh Benry Biller menunjukkan, waktu efektif antara anak dan ayahnya adalah 19 menit sehari atau hanya di akhir pekan saja. Lalu apa yang bisa diharapkan dari nineteen minutes father tersebut?

Kenyataan inilah yang banyak dihadapi oleh anak-anak kita, sehingga tidak berlebihan jika Ely Risman berkesimpulan: mengapa anak-anak sekarang nakalnya kelewatan?

Dakwah Media BCA – Green

Yuk bantu dakwah media BCA 1280720000 a.n. Yayasan Baitul Maal Hidayatullah (BMH). Kunjungi https://dakwah.media/

Menurut Ely, karena Indonesia is the fatherless country. Artinya Indonesia bukanlah negara janda, tetapi ayah hadir hanya secara fisik tetapi mereka tidak hadir  secara emosional dan spiritual dalam waktu dan jumlah yang cukup di hadapan anak.

Penelitian Sarah menegaskan spirit bahwa keluarga khususnya ayah, menjadi penanggung jawab utama dalam mempersiapkan generasi penerus. Salah, jika ada yang memahami bahwa dialog ibu tidak penting.

Jelas sangat penting, apalagi banyak tradisi yang tidak bisa dipungkiri bahwa intensitas pengasuhan ibu kepada anak jauh lebih dominan ketimbang ayah.  

Pemahaman yang benar adalah, Al-Quranseakan ingin menyeru kepada semua ayah: “Wahai Ayah, bicaralah. Kalian harus lebih rajin berdialog dengan anak, lebih sering dibanding ibu yang sehari-hari bersama buah hati kalian. Jangan abai apalagi menelantarkan pendidikan buah hati.”

Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Tuhfatul Maudud berpesan; “Jika terjadi kerusakan pada anak, penyebab utamanya ayah. Ingatlah, seorang anak bernasab pada ayahnya (bukan ibu), menunjukkan kepada siapa Allah meminta pertanggung jawaban kelak.”

 Boleh saja ayah berbagi peran pendidikan kepada ibu, atau guru di sekolah atau ustadz di pesantren, tetapi tangung jawab pendidikan anak tidak bisa dialihkan pada siapapun, tetap pada pundak sang Ayah. Bukan ibu, bukan guru apalagi suster pembantu.*/ Misbahul Huda, trainer, motivator dan penulis buku Bukan Sekadar Ayah Biasa. Pernah dimuat di majalah Suara Hidayatullah

Sumber Klik disini

Tinggalkan Balasan

Table of contents

Read more

Berita lainnya