fbpx
Minggu, 23 Juni 2024

Netanyahu Tuai Kritik setelah Salahkan Militernya yang Gagal Atasi Serangan Pejuang  

Share

Hidayatullah.com—Seperti pepatah“meludah ke langit, muka juga yang basah”. Itulah pepatah yang tepat untuk Perdana Menteri ‘Israel’ Benjamin Netanyahu yang saat ini menghadapi kritik tajam setelah dia menuduh kepala keamanannya gagal mengancam serangan pejuang Al-Qassam, pada Sabtu, 7 Oktober 2023.

Yuk bantu dakwah media BCA 1280720000 a.n. Yayasan Baitul Maal Hidayatullah (BMH). Kunjungi  https://dakwah.media/

Netanyahu dianggap mengalami kesalatan fatal setelah dalam sebuah unggahan di media sosial – yang akhirnya dihapus–  karena yang tidak senang dengan pendiriannya ini. “Tak satu pun dari peringatan yang diberikan kepada Perdana Menteri tentang niat Hamas untuk memulai perang ini,” ujar salah satu unggahanya kala itu.

“Di sisi lain, semua pejabat pertahanan hanya menilai Hamas ‘tidak mampu melakukan apa pun’,” tulis Netanyahu di platform X yang dulu bernama Twitter.

Setelah dikecam, Netanyahu kemudian meminta maaf dan memberi tahu semua pemimpin keamanan ‘Israel’ ‘selalu mendapat dukungannya’. Insiden itu adalah ‘salah satu kemarahan’ yang diungkapkan oleh komunitas dunia, termasuk warga ‘Israel’ sendiri terhadap Netanyahu setelah serangan Izzuddin Al-Qassam sebelumnya.

Zionis mengklaim serangan itu sedikit menyebabkannya 1.400 penduduknya tewas dan pejuang Al-Qassam menyandera 220 warga Israe yang sebagian adalah tentara.

Selain itu, anggota kabinet Netanyahu juga menyatakan ketidakpuasannya dengan sikapnya yang ia gambarkan sebagai ‘terlalu terburu-buru’.

“Sebagai seorang pemimpin, dia perlu menunjukkan tanggung jawab ketika negara sedang mendesak. Setiap pernyataan atau tindakan yang tidak jelas dapat merusak kekuatan pertahanan,” kata salah satu anggota kabinetnya, Benny Gantz.

Pernyataan Netanyahu datang pada saat dia sudah berada di bawah tekanan dan dari keluarga sandera yang mendesak pemimpin ‘Israel’ untuk segera menyelamatkan keluarga mereka.  Kekhawatiran mereka mencapai puncaknya ketika ‘Israel’ meningkatkan operasi militer darat di Gaza.

Sementara itu, keluarga para sandera kecewa dengan otoritas ‘Israel’ yang dipandang lebih peduli dengan perang dan balas dendam daripada menyelamatkan para tawanan.

“Jika mereka (‘Israel’) ingin menyelamatkan keluarga kami, mereka telah melakukannya untuk waktu yang lama, dan saat ini, mereka hanya ingin berjuang dan membalas dendam.*

Sumber Klik disini

Tinggalkan Balasan

Table of contents

Read more

Berita lainnya