BSI Direncanakan Masuk Top 10 Bank Syariah Terbesar Dunia, Kenali Perbedaannya Dengan Konvensional

Bank Syariah Indonesia, foto : Tirto
banner 468x60
Bagikan:

Jakarta –  Presiden Joko Widodo telah meresemikan Bank Syariah Indonesia (BSI) pada Senin (1/2/2021). Tiga Bank Syariah tersebut adalah PT BRI Syariah tbk, PT Bank Negara Indonesia Syariah dan PT Bank Mandiri Syariah.

Komposisi pemegang saham terbesar dimiliki oleh PT Bank Mandiri (Parsero) Tbk dengan porsi 51,2 persen saham. Kemudian 25 persen dari Bank BRI, 17,4 persen BNI, 2 persen DPLK BRI-Saham Syariah dan 4,4 persen publik.

Bacaan Lainnya

banner 300250

Dalam hal ini, aset BSI disebut mencapai Rp 240 Triliun dengan modal inti lebih dari Rp 22,6 Triliun. Dalam kurun waktu lima tahun kedepan, BSI akan direncanakan menjadi TOP 10 Bank Syariah Terbesar di dunia dari sisi kapitalisasi pasar.

Selain itu, periode integrasi secara bertahap dijadwalkan sampai dengan 30 Oktober 2021 yang kemudian pada 1 November 2021 BSI telah terintegrasi secara keseluruhan.

Namun dalam pelaksanaannya, mata publik masih awam dengan sistem dari bank syariah. Mereka masih memiliki banyak pertimbangan apakah akan menggunakan bank syariah atau konvensional.

Untuk itu, berikut perbedaan antara bank syariah dan konvensional berdasarkan sistem perbankan.

Dalam segi Saham, Bank Konvesional bersifat bebas nilai dan tidak terikat pada satu nilai agama tertentu. Sedangkan bank Syariah memiliki orientasi pada usaha-usaha yang halal menurut islam.

Dalam sistem keuntungan atau provit, di bank konvesional menerapkan sistem bunga yang ditentukan berdasarkan persentase besarnya simpanan atau pinjaman yang dimiliki nasabah. Ada dua jenis bunga yang memberikan keuntungan pada masing-masing nasabah dan juga pihak bank.

READ  BSI Optimalkan Pertumbuhan Sektor Ekonomi Syariah

Bunga yang diperoleh dari dana tabungan tentu menjadi keuntungan yang dinikmati oleh nasabah, sementara bunga dari pinjaman menjadi keuntungan atas jasa yang telah mereka hadirkan. Sedangkan besaran bunga yang ditawarkan oleh bank konvensional sifatnya tetap.

Sistem profit dalam bank syariah tentu tidak memiliki bunga, namun diganti menjadi bagi hasil, margin keuntungan dan fee. Sifatnya tidak tetap, melainkan berubah berdasarkan kinerja uasaha yang ada.

Dalam sistem orientasi, bank syariah terikat dengan sistem ekonomi islam. Mereka memiliki dua keuntungan yang terbagi atas profit untuk orinetasi keuntungan dunia dan falah untuk keuntungan akhirat. Sedangkan Bank Konevsional hanya memiliki satu keuntungan yang sifatnya duniawi.

Dalam pola hubungan pihak bank konvensional memposisikan dirinya sebagai debitur dan nasabah sebagai pihak kreditur. Sementara itu pada bank Syariah menerapkan 4 pola hubungan, diantaranya; kemitraan (musyarakah dan mudharabah), kemudian penjual-pembeli (murabhahah, salam, dan istishna), ketiga yakni sewa menyewa (ijarah), dan terakhir sebagai debitur-kreditur dalam artian pemegang ekuitas (qard).

Yang terakhir adalah dalam sistem dewan pengawas, bank konvensional tidak memiliki lembaga pengawas khusus, namun untuk bank syariah mereka memiliki lembaga tersebut dengan nama Dewan Pengawas Syariah (DPS). (Ran/IJS)

banner 300x250
Bagikan:

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *