fbpx
Minggu, 23 Juni 2024

Kesejahteraan Nakes, Tanggung Jawab Siapa?

Share

<img width="1024" height="696" src="https://i0.wp.com/www.arrahmah.id/wp/images/stories/2024/04/https___kompas.id_wp-content_uploads_2021_06_20210629WEN1_1624932827.jpg?fit=1024%2C696&ssl=1" class="attachment-full size-full wp-post-image" alt="" decoding="async" fetchpriority="high" srcset="https://i0.wp.com/www.arrahmah.id/wp/images/stories/2024/04/https___kompas.id_wp-content_uploads_2021_06_20210629WEN1_1624932827.jpg?w=1024&ssl=1 1024w, https://i0.wp.com/www.arrahmah.id/wp/images/stories/2024/04/https___kompas.id_wp-content_uploads_2021_06_20210629WEN1_1624932827.jpg?resize=300%2C204&ssl=1 300w, https://i0.wp.com/www.arrahmah.id/wp/images/stories/2024/04/https___kompas.id_wp-content_uploads_2021_06_20210629WEN1_1624932827.jpg?resize=768%2C522&ssl=1 768w, https://i0.wp.com/www.arrahmah.id/wp/images/stories/2024/04/https___kompas.id_wp-content_uploads_2021_06_20210629WEN1_1624932827.jpg?resize=750%2C510&ssl=1 750w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" data-attachment-id="471669" data-permalink="https://www.arrahmah.id/kesejahteraan-nakes-tanggung-jawab-siapa/https___kompas-id_wp-content_uploads_2021_06_20210629wen1_1624932827/" data-orig-file="https://i0.wp.com/www.arrahmah.id/wp/images/stories/2024/04/https___kompas.id_wp-content_uploads_2021_06_20210629WEN1_1624932827.jpg?fit=1024%2C696&ssl=1" data-orig-size="1024,696" data-comments-opened="1" data-image-meta="{"aperture":"0","credit":"","camera":"","caption":"","created_timestamp":"0","copyright":"","focal_length":"0","iso":"0","shutter_speed":"0","title":"","orientation":"0"}" data-image-title="https___kompas.id_wp-content_uploads_2021_06_20210629WEN1_1624932827" data-image-description="" data-image-caption="

Ilustrasi tenaga kesehatan. (Foto: Kompas/P Raditya Mahendra Yasa)

” data-medium-file=”https://i0.wp.com/www.arrahmah.id/wp/images/stories/2024/04/https___kompas.id_wp-content_uploads_2021_06_20210629WEN1_1624932827.jpg?fit=300%2C204&ssl=1″ data-large-file=”https://i0.wp.com/www.arrahmah.id/wp/images/stories/2024/04/https___kompas.id_wp-content_uploads_2021_06_20210629WEN1_1624932827.jpg?fit=1024%2C696&ssl=1″ />

Oleh: Rina Tresna Sari, S.Pd.I
Pendidik Generasi Khoiru Ummah

Bagai buah simalakama, istilah yang tepat untuk menggambarkan kondisi yang dialami para nakes saat ini. Bagaimana tidak, di saat para pekerja nakes menyuarakan hak mereka, ternyata mereka hanya bisa gigit jari dengan kebijakan yang diterapkan untuknya. Mirisnya lagi, mereka berada pada posisi terancam kehilangan pekerjaan jika tidak menerima aturan perusahaan yang sudah ada. Bahkan ada yang menganggap tindakan yang mereka lakukan adalah bentuk ketidakloyalan mereka terhadap perusahaan.

Potret buram dunia kesehatan, inilah yang tengah terjadi kini. Dalam laman berita yang tengah viral di masyarakat, cnnindonesia.com (12 April 2024) memberitakan bahwa ratusan tenaga kesehatan (nakes) di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) dipecat. Disinyalir kejadian ini imbas dari demo yang dilakukan oleh para nakes karena menuntut hak dan keselamatan mereka sebagai pekerja nakes. Mereka meminta perpanjangan SPK, kenaikan upah, dan tambahan penghasilan. Sebanyak 249 nakes non-ASN dipecat oleh penguasa wilayah setempat dengan tidak memperpanjang surat perintah kerja (SPK) 2024.

Lalu apa yang harus mereka lakukan dengan kondisi ini? Ke mana para nakes mengadukan nasibnya agar terjamin hidup dan masa depannya? Tentu saja pertanyaan-pertanyaan tersebut yang mampu menjawab adalah negara. Negara sebagai institusi tertinggi adalah penanggung jawab kehidupan rakyatnya secara sistemis. Jangan sampai ungkapan hati para nakes membuat mereka malah tidak mendapatkan perpanjangan kontrak kerja. Semestinya, kesejahteraan para nakes dijamin oleh negara, dengan kehadiran seorang pemimpin yang peduli pada kesulitan warganya, bukan menjadi pemimpin yang zalim dan menyengsarakan rakyat. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Baqarah Ayat 124:

وَاِذِ ابْتَلٰٓى اِبْرٰهٖمَ رَبُّهٗ بِكَلِمٰتٍ فَاَتَمَّهُنَّ ۗ قَالَ اِنِّيْ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ اِمَامًا ۗ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ ۗ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِى الظّٰلِمِيْنَ

“(Ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, “Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia.” Dia (Ibrahim) berkata, “(Aku mohon juga) dari sebagian keturunanku.” Allah berfirman, “(Doamu Aku kabulkan, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim.”

Namun tidaklah heran, dalam sistem kapitalisme yang kini tengah diadopsi, nasib buruk para nakes dapat muncul di masyarakat. Pasalnya dalam sistem kapitalis tujuan yang ingin diraih adalah sebesar-besarnya keuntungan dan manfaat, tidak peduli walaupun kebijakan yang diberlakukan membuat rakyat sengsara dan jauh dari kesejahteraan.

Termasuk dunia kesehatan di dalamnya, bahwa sudah menjadi rahasia umum sistem kapitalisme, sekalipun kesehatan menjadi bagian penting negara, tetapi posisi mereka tetap berada di ruang bisnis. Setiap hal yang berkaitan dengan kesehatan akan menjadi incaran para pengusaha global untuk bisa mendapatkan keuntungan besar dari industri ini. Padahal kesehatan bukanlah bisnis tetapi harus lebih mengarah pada perkembangan dan pertumbuhan generasi bangsa yang kuat dan sehat dengan memberikan layanan kesehatan terbaik bagi rakyat dari segi jasmani maupun rohani.

Karenanya dunia kesehatan pun tidak luput dari incaran para pengusaha global untuk bisa mendapatkan keuntungan besar dari industri ini. Padahal kesehatan bukanlah bisnis tetapi harus lebih mengarah pada perkembangan dan pertumbuhan generasi bangsa yang kuat dan sehat dengan memberikan layanan kesehatan terbaik bagi rakyat dari segi jasmani maupun rohani.

Kini, jika tenaga kesehatannya saja sudah tidak memiliki awareness terhadap kebutuhan kesehatan masyarakat, bagaimana mungkin masyarakat bisa terpenuhi kebutuhan kesehatannya dengan baik. Sekali lagi, bukan karena tidak ingin mengabdikan diri pada kesehatan masyarakat, tetapi nyatanya para nakes pun tengah memikirkan nasibnya sendiri yang tengah berada di ujung tanduk. Memikirkan bagaimana mereka jika tanpa pekerjaan, tanpa bisa menafkahi dirinya sendiri dan keluarganya, terbukti sistem kapitalis yang diterapkan hari ini gagal menjamin kesejahteraan untuk para nakes.

Akankah nasib para nakes akan berubah lebih baik di saat sistem kapitalisme masih terus diterapkan?

Islam memiliki sistem pemerintahan yang mengatur negara dan rakyatnya berdasarkan syariat. Hukum yang diterapkan tidak akan jauh dari Al-Qur’an dan As-Sunah. Begitu pun Islam menerapkan kesehatan beserta seluruh aspek terkait tanggung jawabnya ada pada negara. Sistem Islam akan menempatkan kebutuhan dasar manusia seperti kesehatan, pendidikan, keamanan, pengadaan listrik, air, tempat tinggal sebagai fasilitas penting yang menjadi fokus perhatian pemimpinnya. Tidak akan ada peluang bisnis apa pun dalam pengelolaannya, karena secara langsung dikelola oleh negara bukan diserahkan untuk dikelola kepada pengusaha, individu, apalagi asing.

Dalam masalah ini, negara wajib menjamin kesejahteraan para nakes agar mereka dapat melaksanakan tugasnya dengan maksimal. Biaya bukan lagi jadi masalah bagi negara, para pemimpin amanah akan senantiasa memberikan perhatian pada kebutuhan para nakes. Baik itu gaji, tunjangan, dan fasilitas kesehatan akan terpenuhi, sehingga masalah krusial seperti di atas seperti demo-demo yang menuntut mereka untuk disejahterakan tidak akan muncul dalam sistem Islam. Dengan dana dari baitul mal, semua pembiayaan layanan publik terkait kesehatan akan ditanggung oleh negara.

Sejatinya, umat kini harus segera bangkit dalam menegakkan syariat Allah, kembali kepada Islam yang kaffah akan membawa kemaslahatan bagi seluruh umat. Islam diturunkan Allah untuk seluruh hamba-Nya untuk dilaksanakan aturan-aturannya,sehingga kesejahteraan dunia dan akhirat akan diraih.

Wallahu a’lam bisshawab

Sumber Klik disini

Tinggalkan Balasan

Table of contents

Read more

Berita lainnya